Kapal Tongkang Ancam Ekosistem Laut Pulau Labengki

Berita300 Dilihat

WANGGUDU – Pulau Labengki merupakan sebuah gugusan kepulauan yang berada di Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Labengki acap kali dijuluki sebagai miniatur Raja Ampat, karena memiliki beberapa pulau kecil dan batu karang yang dikelilingi lautan biru, mirip dengan panorama di Papua Barat.

Tak heran jika Pulau Labengki merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Sulawesi Tenggara. Namun, pesona birunya laut Labengki kini terancam adanya aktivitas kapal tongkang yang melewatinya.

Seperti yang terjadi pada, Selasa (14/10/2025) dalam video yang diambil warga Desa Labengki terlihat kapal tug boat sedang menarik tongkang melewati Pulau Labengki atau Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Lasolo.

Melihat ancaman ekosistem dan keindahan TWAL Teluk Lasolo atau wisata Pulau Labengki membuat Ketua Forum Kajian Hukum dan Lingkungan (Forkam HL) Sultra, Agus Dermawan geram dan mengecam keras keberadaan kapal tongkang di atas laut Labengki.

“Kami mengutuk keras keberadaan tongkang di laut Labengki. Keberadaan tongkang itu dapat mengancam keindahan wisata Labengki yang sering disamakan Raja Ampat Konut,” kata Agus Dermawan.

Menurut Agus Dermawan, perusahaan pemilik tongkang atau perusahaan tambang nikel wajib mengetahui jika Pulau Labengki merupakan Surga tersembunyi di Sulawesi Tenggara khususnya di Kabupaten Konawe Utara.

“Sudah cukup pesisir laut Konawe Utara rusak akibat aktivitas pertambangan. Jangan lagi cemari laut Labengki. Kapal-kapal tongkang sudah cukup melewati TWAL yang di depan Desa Boedingi dan Boenaga, jangan lagi lewat jalur di depan Desa Labengki,” ujarnya.

Melintasnya kapal tongkang di Pulau Labengki, lanjut Agus, merupakan kelalaian dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra dalam melakukan pengawasan.

“TWAL Teluk Lasolo dan wisata Pulau Labengki adalah tanggungjawab BKSDA untuk mengawasi agar tetap terjaga dan tidak tercemar. Kami harap ini tidak terjadi lagi,” tutupnya.

Penulis : Patri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *